Sabtu, 08 September 2012
Arti Lambang UGM
Buat yang belum tahu, wajib nih tahu soal arti lambang UGM (Universitas Gadjah Mada), apalagi buat mahasiswa UGM adalah suatu keharusan hehee ^^
ARTI LAMBANG UGM
Bentuk lambang UGM
Bentuk lambang UGM bisa dibagi menjadi tiga, yaitu:
• Pusat lambang. Ia berupa surya atau matahari yang berlubang dan memancarkan sinar dalam bentuk lima kesatuan kumpulan sinar. Setiap kesatuan kumpulan sinar terdiri dari sembilan belas sorot sinar. Warna surya dan sinar, kuning emas;
• Dua lingkaran di tengah-tengah matahari. Lingkaran bagian dalam memuat huruf-huruf menyembul berbunyi GADJAH MADA. Lingkaran bagian luar memuat tulisan UNIVERSITAS pada bagian atasnya dan tulisan JOGJAKARTA pada bagian bawahnya. Kedua bentuk lingkaran ini bersusun, sehingga mirip surya kembar. Sedangkan lima kesatuan kumpulan sinar surya berbentuk Kartika atau Bintang Segi lima;
• Lima songkok. Pada lambang dilindungi oleh lima songkok bewarna putih, yaitu topi kebesaran panglima. Di antara songkok-songkok tersebut terdapat lima tombak bewarna kuning.
Lambang ini diwujudkan antara lain pada:
• Pakaian Jabatan Guru Besar UGM dalam bentuk topi bersegi lima, di mana setiap seginya berbentuk songkok. Tepi balik toga berbentuk lima songkok pula. Sedangkan bagian punggung, leher, dada dan lengan terbuat dari beledru berwarna hitam, dengan lambang lima songkok pada leher dan lengan
• Duaja Universitas, yaitu di atas alas berwarna kuning emas dan putih, dan
• Tongkat pedel, yaitu di bagian ujung dan bersisi dua.
Arti Lambang
Sedangkan arti dari lambang tersebut bisa diuraikan dalam enam bagian, yaitu:
1. Surya dengan sinarnya dan kartika bersegi lima berwarna kuning emas melambangkan bahwa Universitas Gadjah Mada adalah Universitas Pancasila, Lembaga Nasional Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan bagi Pendidikan Tinggi berdasarkan Pancasila, yang memancarkan ilmu pengetahuan. kenyataan dan kebajikan.
2. Titik pusat lambang berupa matahari berlubang atau "surya binolong". Kata "surya" mengandung makna angka "satu" dan "binolong" mengandung makna angka "sembilan", sehingga bentuk "surya binolong" atau matahari berlubang mengandung makna "satu" dan "sembilan", yang bisa dibaca 19. Setiap kesatuan kumpulan sinar pun terdiri atas sembilan belas sorot sinar, yang juga mengandung makna angka 19, tanggal pendirian UGM.
3. Dua bentuk lingkaran bersusun yang melingkari lubang titik pusat lambang di dalam lima kesatuan kumpulan sinar surya berbentuk bintang segi lima, yang serupa dengan surya kembar di dalam Kartika atau Bintang. Kartika me. ngandung makna "satu" dan surya kembar mengandung makna "dua", sehingga bentuk surya kembar ini mengandung makna angka satu dan "dua", yang bisa dibaca 12. Angka 12 ini adalah nomor bulan Desember, bulan pendirian UGM.
4. Songkok dan Tombak masing-masing berjumlah lima melingkungi Surya dan Kartika, melambangkan sifat pahlawan dan perjuangan nasional UGM yang selalu siap sedia dan waspada. Keseluruhannya diliputi dan diresapi Pancasila, semuanya itu melambangkan sifat UGM sebagai monumen perjuangan Pancasila berdasarkan Pancasila.
5. Kesatuan kumpulan Sinar, Segi Kartika, Songkok, dan Tombak, masing-masing berjumlah 5 (lima). Semuanya melambangkan Pancasila, sehingga UGM memiliki dasar, sifat, dan tujuan, hakekat pahlawan serta perjuangan nasional demi Pancasila.
6. Warna putih melambangkan sifat kesucian. Warna kuning emas melingkari warna putih pada hakikatnya merupakan satu "sengkalan memet", yaitu rumusan kata-kata yang menyiratkan pertalian makna warna putih dan warna kuning emas, yang berbunyi: murnining suci margining kanyatan atau kemurnian kesucian adalah jalan kenyataan. Katimat ini melambangkan angka tahun 1949, yaitu tahun pendirian UGM.
Kata "Murni" mengandung angka 9; "Suci"dilambangkan angka 4; " Marga" dilambangkan angka 9, sedangkan "kenyataan" dilambangkan angka 1. Semua ini,bila dibaca dari belakang, mempunyai nilai 1949.
http://www.google.co.id/search?q=arti+lambang+UGM&hl=id&prmd=imvns&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ei=37IgUKSvN4ftrAfwrIC4CA&ved=0CFMQsAQ&biw=1280&bih=586
Diposting oleh
Rafika Fitri Qonita
di
05.17
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kamis, 06 September 2012
Bowl of Hygeia
Kemarin udah arti Gedung Pusat UGM, sekarang pindah ke Farmasi yak :D Tahu kan lambang di apotek-apotek yang ada mangkuk sama ularnya itu... Bowl of Hygeia namanya, mungkin udah banyak juga yang tahu, tapi buat yang belum tahu, mungkin bisa mbaca-mbaca dikit lah dari sini ^^
Gelas/mangkuk (cup atau bowl) yang ada di lambang farmasi adalah milik Hygeia, yakni seorang anak dari Asclepius (Dewa pengobatan dan penyembuhan dalam mitologi yunani), dan Hygeia adalah dewi kesehatan, kebersihan dan sanitasi.
Sedangkan Ular yang melilit mangkuk, merupakan staf dari Asclepius. Ascleipus bertemu dengan ular tersebut pada suatu hari ketika Ascleipus dipanggil untuk menyembuhkan seorang laki-laki yang sekarat di dalam rumah, ia mengurung diri bersama lelaki itu di kamarnya.. memang sudah terlambat, lelaki itu telah meninggal.. Tetapi ketika Asclepius mulai putus asa, tiba-tiba datang seekor ular mendekati tongkatnya. Karena kaget, Asclepius pun membunuhnya. Lalu datanglah ular kedua, membawa selembar daun yang kemudian menghidupkan kembali ular yang sebelumnya tewas. Ular yang membawa daun itu kemudian melilit di tongkat Asclepius, dan Asclepius menggunakan daun yang dibawa ular itu untuk menghidupkan lelaki yang telah meninggal tersebut. Sejak saat itu, ular kedua yang datang tersebut menjadi staf dari Ascleipus.
Kemudian secara keseluruhan, lambang farmasi (bowl of Hygeia) merupakan patung yang menggambarkan dewi Yunani-Hygieia yang sedang memegang mangkuk dengan ular jinak yang mengitarinya dan seolah minum dari mangkuk tersebut. Beberapa orang berpendapat bahwa mangkuk Hygeia dan ular merupakan simbol keseimbangan alam di muka bumi. Ular menggambarkan pasien yang bebas memilih untuk mengobati dirinya sendiri atau tidak. Menurut kepercayaan Yunani kuno, ular yang melilit pada mangkuk menggambarkan kebijaksanaan dan kesembuhan. Hal ini dikarenakan ketika orang mati akan berada pada alam baka yang entah baik atau buruk dan ular dipercaya bisa berkomunikasi dengan orang mati tersebut. Bahkan ular juga dipercaya bisa membawa jiwa orang yang telah meninggal untuk membantu kehidupan. -Rafika Fitri Qonita-
Sumber:
http://siskhana.blogspot.com/2010/01/arti-lambang-farmasi-bowl-of-hygiea.html
http://chaerunasa.blogspot.com/2010/06/arti-dari-lambang-farmasi-apotek.html
Diposting oleh
Rafika Fitri Qonita
di
17.46
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Rabu, 05 September 2012
Arti Gedung Pusat UGM
Sebelumnya belum begitu tahu dan tidak tahu juga kalo ternyata Gedung Pusat UGM ada artinya tersendiri. Tapi karena ada tugas dari p2smb (sebutan ospek kami), sontak para GaMaDa (sebutan maba UGM) fakultas farmasi 'googling' dan mencari-cari apa arti sebenarnya dari Gedung Pusat itu sendiri. Dan ini dia hasilnya...
ARTI GEDUNG PUSAT UGM
Gedung Pusat menghadap ke utara, menghadap Merapi. Menghadap ke utara itu bermakna menyambut datangnya Budha. Rakyat Majapahit percaya bahwa Budha ada tiga, yaitu Budha Utara atau Budha dahulu, Budha Tengah atau Budha sekarang, dan Budha Selatan atau Budha yang akan datang. Mereka percaya Budha datang dari utara, dan Ratu menyambut Budha.
Memang ada pertalian antara UGM dengan kerajaan Majapahit. Ini dikarenakan nama besar Gadjah Mada yang disandang oleh UGM. Karena berkiblat ke Majapahit maka pola-pola Majapahit, pada waktu itu, banyak digunakan sebagai landasan, termasuk di antaranya ketika membangun Gedung Pusat UGM. Lazimnya kerajaan pada masa lalu yang dibangun selalu berdekatan dengan sumber air maka lokasi pembangunan Gedung Pusat UGM pun dipilih berdekatan dengan sumber air, yaitu kawasan lembah UGM. Karena seperti membangun istana Majapahit, gedung Pusat UGM juga dibangun lengkap dengan pilar-pilar besar.
Gedung Pusat UGM, yang berarsitektur Indisch (gaya arsitektur yang lazim digunakan pada masa itu) memiliki makna filosofi yang tinggi. Pilar-pilar besar itu menggambarkan karakter disiplin, wibawa, keteraturan, dan kekuatan. Tata tamannya berkonsep minimalis, semua serba teratur, simetris, hanya dihiasi cemara dan rumput. Lalu ada pula ornamen lung-lungan. Arsiteknya benar-benar sangat cermat. Karenanya, peninggalan sejarah ini tidak boleh diubah apalagi dirusak.
Rencana semula atap Gedung Pusat UGM akan dibuat flat. Namun Senat Universitas saat itu menghendaki model atap rumah Jawa, yaitu limasan. Dalam konsep Budha atau Hindu ada istilah pencerahan. Interaksi dalam diri manusia, interplay, lalu ke atas, menuju Tuhan, begitu alasannya.
Sebagaimana Gedung Pusat UGM, tata jalan di dalam kawasan kampus UGM juga diarahkan menuju utara, menuju Merapi.
Di halaman Gedung Pusat UGM juga ditanam pohon bodhi, yang diperoleh dari hasil stek pohon bodhi yang ada di candi Borobudhur.
Gedung Pusat UGM didirikan sesuai dengan kosmologi Jawa, dengan sumbu Kridosono-Boulevard-Lapangan Pancasila-Gedung Pusat UGM-Merapi, sejajar dengan poros utama Laut Selatan-Panggung Krapyak-Keraton-Malioboro-Tugu-Merapi.
Tata ruang Gedung Pusat menghadap ke utara, arah Merapi, berdasarkan falsafah Tri Hitta Karana. Supaya tidak terkesan membelakangi Kraton Yogyakarta, marga utama ke Gedung Pusat UGM dibuat di sebelah selatan, yakni Boulevard UGM. Pembangunan kampus UGM dilengkapi dengan alun-alun yang saat ini menjadi Lapangan Pancasila.
Sumber:
Diposting oleh
Rafika Fitri Qonita
di
20.56
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Jumat, 17 Februari 2012
Pranatacara Mantenan
PRANATACARA
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
1. Nuwun, para tamu kakung putri ingkang kinurmatan, pambyawara hangaturaken sugeng rawuh, mugi kepareng hamrayogekaken lelenggahan ngantos titi purnaning pamiwahan ing dinten punika.
Para tamu kakung putri ingkang kawula hormati,
Saderengipun tatacara pamiwahan kawiwitan, pambyawara kepareng hangaturaken rerantaman adicara pamiwahan ingkang badhe linampahan ing dinten punika:
1) Lenggahanipun temanten putri
2) Rawuhipun temanten kakung
3) Mlebetipun temanten dhateng pasamuwan
4) Pasrahan temanten kakung
5) Panampining pasrah
6) Adicara panggih
7) Adicara kacar-kucur
8) Rawuhipun tamu besan
9) Adicara pangabekten
10) Adicara atur pambagya harja
11) Adicara kirab
12) Adicara paring nursitawara
13) Purnaning pamiwahan
Pambyawara maos rerantaman adicara ingkang baku-baku kemawon.
Makaten rerantamaning adicara pamiwahan ing dinten punika. Wasana mugi kepareng hamrayogekaken lenggah, sinambi amidhangetaken laras ing pradangga anguyu-uyu. Nuwun.
2. Ngacarani Lenggahipun Temanten Putri
Kula nuwun, para tamu kakung putri ingkang kawula hormati,
Temanten putri sampun purna ngadi busana. Kairingaken dening Ibu Sri Supanti, kakanthi Ibu Widarti lan Ibu Widarsi, kadherekaken sawetawis paraga temanten putri tumunten badhe miyos lenggah ing palenggahan temanten. Miyosing temanten karengga ketawang Puspawarna, Laras Slendro pathet manyura. Sumangga.
3. Ngacarani Rawuhipun Temanten Kakung
Nuwun para tamu kakung putri, temanten kakung sapendherek sampun kepareng rawuh. Rawuhipun temanten kabiwadha Lancaran Kebogiro Pelog Pathet barang, sumangga.
4. Ngacarani Mlebetipun Temanten dhateng Pasamuwan
Para tamu kakung putri, temanten kakung sapendherekipun sampun tata rakit ing wiwaraning pasamuwan. Ingkang punika paraga ingkang kajibah sumangga kemunten keparenga hangacarani rawuhipun temanten ing pasamuwan. Tindakipun temanten kabiwadha ungeling Ladrang Wilujeng Bedhayan, Laras Pelog pathet barang. Sumangga.
5. Ngacarani Pasrahan Temanten Kakung
Bapa Suratman, sampun samapta ing karya. Samanten ugi Bapa Surono Dibyo Susilo, Bapa Sumarno, Bapa Widodo sarta Bapa Bambang Prasetya sampun siyaga tumanggaping damel. Awit saking punika wanci kaaturaken ing ngarsanipun Bapa Suratman. Sumangga.
6. Ngacarani Panampining Pasrah
Sampun purna paring pangandikanipun Bapa Suratman hamasrahaken temanten kakung. Pasrahing temanten nunten katampi dening Bapa Rukmanto Sudirahusada lumantar panjenenganipun Bapa Surono Dibyo Susilo wanci kaaturaken. Sumangga.
7. Ngacarani Adicara Panggih
Para tamu kakung putri, tumunten badhe katindakaken adicara panggihing temanten. Paraga ingkang tinanggenah keparenga nyawisaken pirantos sacekapipun. Panggihing temanten karigenaken dening Ibu Sri Supanti. Awit saking punika Ibu Sri Supanti keparenga nganthi temanten putri anuju dhateng papaning panggih. Para tamu kasuwun paringipun puji pangestu dhumateng temanten kekalih. Panggihing temanten kabiwadha ungeling gendhing Monggang kalajengaken Ketawang Larasmaya Pelog Barang. Sumanggga.
8. Ngacarani Adicara Kacar-Kucur
Para tamu kakung putri, adicara panggihing temanten sampun tumapak kanthi prayogi, wilujeng nir ing sambikala. Salajengipun konjuk ngarsanipun Ibu Sri Supanti keparenga nglajengaken adicara kacar-kucur tuwin adicara adat saperlunipun.
9. Ngacarani Rawuhipun Tamu Besan
Kula nuwun para tamu, wit saking notoling manah kepengin paring pangestu dhateng temanten kekalih sarta raket rumaketing bebesanan, Bapak Ibu Warsono Sastro Hadi Kusuma kepareng rawuh ing pasamuwan punika. Ingkang tinanggenah keparenga hangacarani rawuhipun tamu besan. Mrih renggeping swasana, rawuhipun Besan kinurmatan Ladrang Tirtakencana, Laras Pelog Nem. Sumangga.
10. Ngacarani Adicara Pangabekten
Sanggya para tamu, kadang besan sutresna panjenenganipun Bapak Ibu Warsono Sastro Hadi Kusuma sampun lenggah aben ajeng kaliyan panjenenganipun Bapak Ibu Rukmanto Sudirahusada wonten sasana ingkang sampun sumadya, keparenging sedya badhe hanampi sungkeming putra temanten sarimbit. Dhumateng para-para ingkang piniji rahayuning sedya kasumanggakaken. Tumapaking adicara sungkeman binarung ungeling Ladrang Mugi Rahayu laras slendro pathet manyura. Sumangga.
11. Ngacarani Adicara Atur Pambagya
Para tamu kakung sumawana putri, panjenenganipun Bapa Rukmanto Sudirahusada badhe marak ngabyantara sami, saperlu ngaturaken pambagyaharja, miwah wudharing gantha, lekas wekasing sedya, wigatosing gati. Inggih kabekta saking raos bombong miwah mongkoging manah, karana karoban ing sih sedaya ingkang sampun kepareng hanjenengi, saengga boten kuwawi matur piyambak, jrih menawi boten saged kawiyos ing lathi, namung kandheg wonten ing jangga, mila lajeng hanyaraya dhumateng panjenenganipun Bapa Tukijo Djoko Suhardjo. Ing salajengipun dhumateng para-para ingkang piniji, sasana saha swasana kawula sumanggakaken. Sumangga.
12. Ngacarani Adicara Kirab Kanarendran
Sanggya para tamu, keparenging sedya temanten sarimbit badhe jengkar saking sasana wiwaha, arsa kinirapaken wonten ngarsaning para tamu, tumunten manjing ing sasana busana, saperlu rucat busana kanarendran, santun busana ksatriyan. Tataning kirab sinanggit ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Kados-kados sampun samekta ing gati para paraga ingkang badhe njengkaraken putra temanten, menggah kaleksananing sedya kawula sumanggakaken dhumateng para-para ingkang piniji. Jengkaring Sang Suba Manggala, lamun cinandra kawistara piyaking ngarsa tangkep ing wuri Gendhing Ayak-ayakan laras pelog pathet barang. Wondene jengkaring temanten sarimbit saking sasana wiwaha tumuju sasana busana binarung ungeling Ketawang Langenggita Sri Narendra laras pelog pathet barang. Sumangga.
13. Ngacarani Adicara Kirab Kasatriyan
Para tamu kakung sumawana putri ingkang winantu sagunging pakurmatan, kados-kados putra temanten anggenipun ngrasuk busana kasatriyan sampun paripurna, keparenging sedya badhe marak sowan malih ngabyantara para tamu, saperlu nyenyadhang pudyastawa mrih widadaning bebrayan. Kirabing putra temanten ngrasuk busana kasatriyan kabiwadha ungeling Ketawang Subakastawa laras slendro pathet sanga. Sumangga.
14. Ngacarani Adicara Paring Nursitawara
Para tamu kakung putri,
Temanten kekalih sampun sowan ing ngarsa. Clereting netra kawistara, agung nggenya angantu-antu paring panjenengan puji pangastuti, widadaning lampah, tulusing parasdya, anggenya mangun brayat, winisudha sinengkakaken ing tataran wredha, werdine pan kedah mandireng priyangga. Meh antuka kalidamar, pandham margining agesang bebrayan, mila kasuwun panjenenganipun Bapa Sumantri paring ular-ular dhumateng temanten kekalih, sumarambah ing sadayanipun.
Wasana, sumangga.
15. Purnaning Pamiwahan
Makaten para tamu kakung putri, mliginipun dhateng temanten kekalih. Mugi dadosa bundhelan adi, gegaran nggayuh widadaning palakrama. Kados sampun boten worsuh panampi panjenengan. Kantun keparenga sami angecakaken ing gesang bebrayan.
Minangka pratandha paripurnaning pasamuwan pamiwahan, kalanipun ingkang amengku karya, tuwin temanten kekalih sampun samapta anguntapaken konduripun para tamu ing sangandhaping wiwara pamiwahan. Konjuk ngarsanipun ibu Sri Supanti, juru mratitisaken wiraga temanten kekalih, keparenga temanten kekalih kakanthi tinuju dhateng wiwaraning sasana pamiwahan, saperlu nguntapaken konduripun para tamu.
Para tamu kakung putri,
Pamiwahan sampun paripurna.
Lumantar pambyawara, ingkang amangku karya hamangsuli hangaturaken gunging panuwun, awit paring panjenengan bebantu rupi punapa kemawon. Sadaya kiranging boja lan krami, keparenga paring agunging pangaksama.
Mligenipun tumrap jasad kula, Pambyawara, kathah saru-siku, temah tan bangkit adamel rena, kula nyuwun lumunturing pangaksama. Nuwun sugeng kondur dhumateng para tamu sadaya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
1. Nuwun, para tamu kakung putri ingkang kinurmatan, pambyawara hangaturaken sugeng rawuh, mugi kepareng hamrayogekaken lelenggahan ngantos titi purnaning pamiwahan ing dinten punika.
Para tamu kakung putri ingkang kawula hormati,
Saderengipun tatacara pamiwahan kawiwitan, pambyawara kepareng hangaturaken rerantaman adicara pamiwahan ingkang badhe linampahan ing dinten punika:
1) Lenggahanipun temanten putri
2) Rawuhipun temanten kakung
3) Mlebetipun temanten dhateng pasamuwan
4) Pasrahan temanten kakung
5) Panampining pasrah
6) Adicara panggih
7) Adicara kacar-kucur
8) Rawuhipun tamu besan
9) Adicara pangabekten
10) Adicara atur pambagya harja
11) Adicara kirab
12) Adicara paring nursitawara
13) Purnaning pamiwahan
Pambyawara maos rerantaman adicara ingkang baku-baku kemawon.
Makaten rerantamaning adicara pamiwahan ing dinten punika. Wasana mugi kepareng hamrayogekaken lenggah, sinambi amidhangetaken laras ing pradangga anguyu-uyu. Nuwun.
2. Ngacarani Lenggahipun Temanten Putri
Kula nuwun, para tamu kakung putri ingkang kawula hormati,
Temanten putri sampun purna ngadi busana. Kairingaken dening Ibu Sri Supanti, kakanthi Ibu Widarti lan Ibu Widarsi, kadherekaken sawetawis paraga temanten putri tumunten badhe miyos lenggah ing palenggahan temanten. Miyosing temanten karengga ketawang Puspawarna, Laras Slendro pathet manyura. Sumangga.
3. Ngacarani Rawuhipun Temanten Kakung
Nuwun para tamu kakung putri, temanten kakung sapendherek sampun kepareng rawuh. Rawuhipun temanten kabiwadha Lancaran Kebogiro Pelog Pathet barang, sumangga.
4. Ngacarani Mlebetipun Temanten dhateng Pasamuwan
Para tamu kakung putri, temanten kakung sapendherekipun sampun tata rakit ing wiwaraning pasamuwan. Ingkang punika paraga ingkang kajibah sumangga kemunten keparenga hangacarani rawuhipun temanten ing pasamuwan. Tindakipun temanten kabiwadha ungeling Ladrang Wilujeng Bedhayan, Laras Pelog pathet barang. Sumangga.
5. Ngacarani Pasrahan Temanten Kakung
Bapa Suratman, sampun samapta ing karya. Samanten ugi Bapa Surono Dibyo Susilo, Bapa Sumarno, Bapa Widodo sarta Bapa Bambang Prasetya sampun siyaga tumanggaping damel. Awit saking punika wanci kaaturaken ing ngarsanipun Bapa Suratman. Sumangga.
6. Ngacarani Panampining Pasrah
Sampun purna paring pangandikanipun Bapa Suratman hamasrahaken temanten kakung. Pasrahing temanten nunten katampi dening Bapa Rukmanto Sudirahusada lumantar panjenenganipun Bapa Surono Dibyo Susilo wanci kaaturaken. Sumangga.
7. Ngacarani Adicara Panggih
Para tamu kakung putri, tumunten badhe katindakaken adicara panggihing temanten. Paraga ingkang tinanggenah keparenga nyawisaken pirantos sacekapipun. Panggihing temanten karigenaken dening Ibu Sri Supanti. Awit saking punika Ibu Sri Supanti keparenga nganthi temanten putri anuju dhateng papaning panggih. Para tamu kasuwun paringipun puji pangestu dhumateng temanten kekalih. Panggihing temanten kabiwadha ungeling gendhing Monggang kalajengaken Ketawang Larasmaya Pelog Barang. Sumanggga.
8. Ngacarani Adicara Kacar-Kucur
Para tamu kakung putri, adicara panggihing temanten sampun tumapak kanthi prayogi, wilujeng nir ing sambikala. Salajengipun konjuk ngarsanipun Ibu Sri Supanti keparenga nglajengaken adicara kacar-kucur tuwin adicara adat saperlunipun.
9. Ngacarani Rawuhipun Tamu Besan
Kula nuwun para tamu, wit saking notoling manah kepengin paring pangestu dhateng temanten kekalih sarta raket rumaketing bebesanan, Bapak Ibu Warsono Sastro Hadi Kusuma kepareng rawuh ing pasamuwan punika. Ingkang tinanggenah keparenga hangacarani rawuhipun tamu besan. Mrih renggeping swasana, rawuhipun Besan kinurmatan Ladrang Tirtakencana, Laras Pelog Nem. Sumangga.
10. Ngacarani Adicara Pangabekten
Sanggya para tamu, kadang besan sutresna panjenenganipun Bapak Ibu Warsono Sastro Hadi Kusuma sampun lenggah aben ajeng kaliyan panjenenganipun Bapak Ibu Rukmanto Sudirahusada wonten sasana ingkang sampun sumadya, keparenging sedya badhe hanampi sungkeming putra temanten sarimbit. Dhumateng para-para ingkang piniji rahayuning sedya kasumanggakaken. Tumapaking adicara sungkeman binarung ungeling Ladrang Mugi Rahayu laras slendro pathet manyura. Sumangga.
11. Ngacarani Adicara Atur Pambagya
Para tamu kakung sumawana putri, panjenenganipun Bapa Rukmanto Sudirahusada badhe marak ngabyantara sami, saperlu ngaturaken pambagyaharja, miwah wudharing gantha, lekas wekasing sedya, wigatosing gati. Inggih kabekta saking raos bombong miwah mongkoging manah, karana karoban ing sih sedaya ingkang sampun kepareng hanjenengi, saengga boten kuwawi matur piyambak, jrih menawi boten saged kawiyos ing lathi, namung kandheg wonten ing jangga, mila lajeng hanyaraya dhumateng panjenenganipun Bapa Tukijo Djoko Suhardjo. Ing salajengipun dhumateng para-para ingkang piniji, sasana saha swasana kawula sumanggakaken. Sumangga.
12. Ngacarani Adicara Kirab Kanarendran
Sanggya para tamu, keparenging sedya temanten sarimbit badhe jengkar saking sasana wiwaha, arsa kinirapaken wonten ngarsaning para tamu, tumunten manjing ing sasana busana, saperlu rucat busana kanarendran, santun busana ksatriyan. Tataning kirab sinanggit ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Kados-kados sampun samekta ing gati para paraga ingkang badhe njengkaraken putra temanten, menggah kaleksananing sedya kawula sumanggakaken dhumateng para-para ingkang piniji. Jengkaring Sang Suba Manggala, lamun cinandra kawistara piyaking ngarsa tangkep ing wuri Gendhing Ayak-ayakan laras pelog pathet barang. Wondene jengkaring temanten sarimbit saking sasana wiwaha tumuju sasana busana binarung ungeling Ketawang Langenggita Sri Narendra laras pelog pathet barang. Sumangga.
13. Ngacarani Adicara Kirab Kasatriyan
Para tamu kakung sumawana putri ingkang winantu sagunging pakurmatan, kados-kados putra temanten anggenipun ngrasuk busana kasatriyan sampun paripurna, keparenging sedya badhe marak sowan malih ngabyantara para tamu, saperlu nyenyadhang pudyastawa mrih widadaning bebrayan. Kirabing putra temanten ngrasuk busana kasatriyan kabiwadha ungeling Ketawang Subakastawa laras slendro pathet sanga. Sumangga.
14. Ngacarani Adicara Paring Nursitawara
Para tamu kakung putri,
Temanten kekalih sampun sowan ing ngarsa. Clereting netra kawistara, agung nggenya angantu-antu paring panjenengan puji pangastuti, widadaning lampah, tulusing parasdya, anggenya mangun brayat, winisudha sinengkakaken ing tataran wredha, werdine pan kedah mandireng priyangga. Meh antuka kalidamar, pandham margining agesang bebrayan, mila kasuwun panjenenganipun Bapa Sumantri paring ular-ular dhumateng temanten kekalih, sumarambah ing sadayanipun.
Wasana, sumangga.
15. Purnaning Pamiwahan
Makaten para tamu kakung putri, mliginipun dhateng temanten kekalih. Mugi dadosa bundhelan adi, gegaran nggayuh widadaning palakrama. Kados sampun boten worsuh panampi panjenengan. Kantun keparenga sami angecakaken ing gesang bebrayan.
Minangka pratandha paripurnaning pasamuwan pamiwahan, kalanipun ingkang amengku karya, tuwin temanten kekalih sampun samapta anguntapaken konduripun para tamu ing sangandhaping wiwara pamiwahan. Konjuk ngarsanipun ibu Sri Supanti, juru mratitisaken wiraga temanten kekalih, keparenga temanten kekalih kakanthi tinuju dhateng wiwaraning sasana pamiwahan, saperlu nguntapaken konduripun para tamu.
Para tamu kakung putri,
Pamiwahan sampun paripurna.
Lumantar pambyawara, ingkang amangku karya hamangsuli hangaturaken gunging panuwun, awit paring panjenengan bebantu rupi punapa kemawon. Sadaya kiranging boja lan krami, keparenga paring agunging pangaksama.
Mligenipun tumrap jasad kula, Pambyawara, kathah saru-siku, temah tan bangkit adamel rena, kula nyuwun lumunturing pangaksama. Nuwun sugeng kondur dhumateng para tamu sadaya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Diposting oleh
Rafika Fitri Qonita
di
06.05
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Minggu, 21 Agustus 2011
Pacelathon Basa Jawa
Ceritanya ini buat tugas Bahasa Jawa. Di dalamnya ada parikan dan wangsalannya juga lho.. Semoga bisa membantu yaa.. ^.^
Ani : “Assalamu’alaikum”
Ina : “Wa’alaikum salam. We lha, njanur gunung kowe tekan kene.”
Ani : “Oo iyo nho. Wedang bubuk, gula jawa. Yen kepethuk, ati lega.
Ina : “Cilik gedhe, ciut amba. Kowe mrene, perlu apa?”
Ani : “Iki lho, aku arep njilih buku.”
Ina : “Apa? Kowe nesu karo aku?”
Ani : “Kowe ki jane wis krungu kandhaku, nanging njangan gori.”
Ina : “Kowe ngarani aku budheg?”
Ani : “Lha piye meneh. Aku takon ngalor, kowe njawab ngidul.”
Ina : “Haha, iya iya. Balung klapa, ethok-ethok ora ngerti. Piye, sida njilih ora?”
Ani : “Gula legi, yen pahit kuwi ya pace. Kowe ngerti, apa sing dak karepake.”
Ina : “Oo, Matematika ta? Arep mbok nggo apa?”
Ani : “Kuwi lho PR bab limit. Ah, njangan gori, nganti judheg anggonku mikir cara nggarape.”
Ina : “Sabar.. Ngembang kacang, mbesengut ora kalegan.”
Ani : “Sabar, sabar… (ngelus dhadha). Endi bukune? Dak silihe dhisik.
Ina : “Tunggunen, dak jupuke dhisik. (mlebu omah). Iki bukune!”
Ani : “Ya, matur nuwun.”
Ina : “Akeh lintang, tengah wengi. Aja ilang, kudu bali.”
Ani : “Akeh watu, pinggir kali. Yen mbi aku, bakal bali.”
Ina : “Hahaha… ya wis kana muliha. Rak wis bar, ta urusanmu?”
Ani : “Walah, ngusir ta iki ceritane. Ya wis, Assalamu’alaikum.”
Ina : “Wa’alaikum salam”
-Rafika Fitri Qonita-
Ani : “Assalamu’alaikum”
Ina : “Wa’alaikum salam. We lha, njanur gunung kowe tekan kene.”
Ani : “Oo iyo nho. Wedang bubuk, gula jawa. Yen kepethuk, ati lega.
Ina : “Cilik gedhe, ciut amba. Kowe mrene, perlu apa?”
Ani : “Iki lho, aku arep njilih buku.”
Ina : “Apa? Kowe nesu karo aku?”
Ani : “Kowe ki jane wis krungu kandhaku, nanging njangan gori.”
Ina : “Kowe ngarani aku budheg?”
Ani : “Lha piye meneh. Aku takon ngalor, kowe njawab ngidul.”
Ina : “Haha, iya iya. Balung klapa, ethok-ethok ora ngerti. Piye, sida njilih ora?”
Ani : “Gula legi, yen pahit kuwi ya pace. Kowe ngerti, apa sing dak karepake.”
Ina : “Oo, Matematika ta? Arep mbok nggo apa?”
Ani : “Kuwi lho PR bab limit. Ah, njangan gori, nganti judheg anggonku mikir cara nggarape.”
Ina : “Sabar.. Ngembang kacang, mbesengut ora kalegan.”
Ani : “Sabar, sabar… (ngelus dhadha). Endi bukune? Dak silihe dhisik.
Ina : “Tunggunen, dak jupuke dhisik. (mlebu omah). Iki bukune!”
Ani : “Ya, matur nuwun.”
Ina : “Akeh lintang, tengah wengi. Aja ilang, kudu bali.”
Ani : “Akeh watu, pinggir kali. Yen mbi aku, bakal bali.”
Ina : “Hahaha… ya wis kana muliha. Rak wis bar, ta urusanmu?”
Ani : “Walah, ngusir ta iki ceritane. Ya wis, Assalamu’alaikum.”
Ina : “Wa’alaikum salam”
-Rafika Fitri Qonita-
Diposting oleh
Rafika Fitri Qonita
di
00.26
2
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Parikan
PARIKAN
Parikan iku unèn-unèn kang dumadi saka rong ukara. Ukara sepisanan kanggo narik kawigatèn, kang kapindho minangka isi. Parikan iki kaya pantun nanging mung rong larik. Parikan migunakake purwakanthi swara.
Kang Diarani Parikan
Yaiku unen-unen mawa paugeran telung warna yaiku :
• Kadedan saka rong ukara kang dhapukake nganggo purwakanthi guru swara
• Saben saukara kadaden saka rong gatra
• Ukara kapisan mung minangka purwaka; déné isi utawa wosé dumunung ing ukara kapindho.
Tuladha: Tawon madu, ngisep sekar. (Ukara kapisan, 2 gatra). Calon guru, kudu sabar (ukara kapindho, 2 gatra).
Gunane purwaka (ukara kapisan) mung dianggo narik kawigatene wong kang nedya sikandhani utawa dipituturi, Perlune, supaya ing sadurunge ukara kang isi utawa “wose” dikandhakake, wong sing nedya dikandhani wis ketarik atine, satemah banjur nggatekake, bisa ngerti temenan marang maksude ukuran kang isi “ngese” (ukara kapindho).
Manut (cacahing) wandane, parikan iku kena diperangi dadi telu, yaiku:
1. Parikan kang kadadean saka (4 wanda + 4 Wanda) X 2
Tuladha:
Iwak bandheng, durung wayu (4 wanda + 4 Wanda)
Priya Ngganteng, sugih ngelmu (4 wanda + 4 Wanda)
2. Parikan kang kadadean saka (4 wanda + 8 Wanda) X 2
Tuladha:
Kembang adas, sumebar tengahing alas (4 wanda + 8 Wanda)
Tuwas tiwas, nglabuhi wong ora waras. (4 wanda + 8 wanda)
3. Parikan kang kadadean saka (8 wanda + 8 Wanda) X 2
Tuladha:
Enting-enting gula jawa, sabungkus isine sanga
Ingatane para siswa, wajib seneng nggubah basa.
Parikan sing kadadean saka (8 wanda + 8 wanda) X 2, saweneh ana sing ngarani parikan patang pada. Iku keliru, sebab tembung “pada” iku tumprap reriptan kanggone mung ana ing tembang. Dene yen tembung “pada” iku sing dikarepake kudu mung ora ukara, siji-sijining ukura kadadean saka 2 gatra: dadi kabeh ana 4 gatra Wondene carane nulis 4 gatra iku, kena bae didadekake 4 larik.
Tuladha kasebut kena katulis mangkene:
Enting-enting gula jawa
Sabungkus isine sanga
Ingatase para siswa
Wajib seneng nggubah basa
Parikan sing dianggo nggérongi lelagoning gendhing
Ing parikan iki dhapukaning ukara mesthi bae ora bisa tansah nglungguhi paugeran, sebab cacahing wandane kawengku ing laguning gendhing.
Tuladha:
• Lelagon Parikan (Slendro Patet 9)
Cengkir Wungu, wungune ketiban daru (Dhu Ibu)
Calon guru, kudu sabar momot mengku (Pm)
Katrangan Perangan sing dikurung, yaiku (Dhu Ibu), iku wuwuhan, kanggo senggakan.
• Suwe Ora Jamu. Pelog Pathet 6
Suwe ora jamu, jamu godhong kencur
Suwe ra ketemu, temu pisan maju mundur
Carane Ngarang Parikan
Sing dikarang luwih dhisik ukara kapindho, yaiku sing isi “ngese” utawa “Wose”. Ukarane kadadean saka 4 wanda+4 wanda, utawa 4 wanda+8 wanda, utawa 8 wanda+8 wanda. Sawise rampung pangarange ukara kapidho, banjur ngarang ukara kapisan, yaiku ukara kang mung dianggo purwaka. Kehing wandane padha karo ukara kapindho, lan dhapukane kudu mujudake purwakanthi guru swara karo ukara sing kapindho.
Klebu Rerengganing Basa
Parikan klebu rerengganing basa, sebab basa sing mawa parikan iku agawe senenge wong sing maca utawa sing ngrungokake. Guneman mawa parikan bisa njalari rame nengsemake. Gendhing digerongi nganggo sakepan kang mawa parikan, bisa marakake saya gayeng.
Tuladha parikan warna telu
Parikan (4 wanda + 4 wanda) X 2
Wajik Kletik, gula jawa
Luwih becik, sing prasaja
Nangka jeruk, jambu nanas
Rada watuk, ngelu panas
Wedang bubuk, tanpa gula
Aja ngamuk, enggal tuwa
Wedang bubuk, gula jawa
Yen kepethuk, ati lega
Wajik klethik, gula abang
Aja suthik, yen tumandang
Parikan (4 wanda + 8 wanda) X 2
Kembang aren, sumber tepining kalen
Aja dahwen, yen kowe kepengen kajen
Kembang kencur, ganda sedhep sandhing sumur
Kudu jujur, yen kowe kepengin luhur
Kembang menur, den sebar den awur-awur
Bareng makmur, banjur lali mring sadulur
Parikan (8 wanda + 8 wanda) X 2
Gawe cao nangka sabrang, kurang setrup luwih banyu
Aja awatak gumampang, ing atase calon guru
Sega punar lawuh empal, segane pengenten anyar
Dadi murid aja nakal, kudu ulah ati sabar
Purwakanthi parikan bisa digawe mawa petungan kang adhedhasar petungan wanda (suku kata).
4 wanda - 4 wanda
wajik klethik, gula jawa
luwih becik wong prasaja
jemek-jemek gula jawa
aja ngenyek padha kanca
manuk emprit menclok pager
dadi murid kudu pinter
4 wanda - 8 wanda
tawon madu, ngisep sari kembang jambu
aja nesu yen dituduhaké luputmu
kembang menur, den sebar den awur-awur
bareng makmur, banjur lali mring sedulur
manuk emprit, nggawa kawat ing wit waru
dadi murid, kudu hormat marang guru
ana baya, mangan roti karo kanca
pengin mulya, aja wedi ing rekasa
8 wanda - 8 wanda
kayu urip ora ngepang, ijo-ijo godhong jati
uwong urip ora gampang, mula padha ngati-ati
Parikan iku unèn-unèn kang dumadi saka rong ukara. Ukara sepisanan kanggo narik kawigatèn, kang kapindho minangka isi. Parikan iki kaya pantun nanging mung rong larik. Parikan migunakake purwakanthi swara.
Kang Diarani Parikan
Yaiku unen-unen mawa paugeran telung warna yaiku :
• Kadedan saka rong ukara kang dhapukake nganggo purwakanthi guru swara
• Saben saukara kadaden saka rong gatra
• Ukara kapisan mung minangka purwaka; déné isi utawa wosé dumunung ing ukara kapindho.
Tuladha: Tawon madu, ngisep sekar. (Ukara kapisan, 2 gatra). Calon guru, kudu sabar (ukara kapindho, 2 gatra).
Gunane purwaka (ukara kapisan) mung dianggo narik kawigatene wong kang nedya sikandhani utawa dipituturi, Perlune, supaya ing sadurunge ukara kang isi utawa “wose” dikandhakake, wong sing nedya dikandhani wis ketarik atine, satemah banjur nggatekake, bisa ngerti temenan marang maksude ukuran kang isi “ngese” (ukara kapindho).
Manut (cacahing) wandane, parikan iku kena diperangi dadi telu, yaiku:
1. Parikan kang kadadean saka (4 wanda + 4 Wanda) X 2
Tuladha:
Iwak bandheng, durung wayu (4 wanda + 4 Wanda)
Priya Ngganteng, sugih ngelmu (4 wanda + 4 Wanda)
2. Parikan kang kadadean saka (4 wanda + 8 Wanda) X 2
Tuladha:
Kembang adas, sumebar tengahing alas (4 wanda + 8 Wanda)
Tuwas tiwas, nglabuhi wong ora waras. (4 wanda + 8 wanda)
3. Parikan kang kadadean saka (8 wanda + 8 Wanda) X 2
Tuladha:
Enting-enting gula jawa, sabungkus isine sanga
Ingatane para siswa, wajib seneng nggubah basa.
Parikan sing kadadean saka (8 wanda + 8 wanda) X 2, saweneh ana sing ngarani parikan patang pada. Iku keliru, sebab tembung “pada” iku tumprap reriptan kanggone mung ana ing tembang. Dene yen tembung “pada” iku sing dikarepake kudu mung ora ukara, siji-sijining ukura kadadean saka 2 gatra: dadi kabeh ana 4 gatra Wondene carane nulis 4 gatra iku, kena bae didadekake 4 larik.
Tuladha kasebut kena katulis mangkene:
Enting-enting gula jawa
Sabungkus isine sanga
Ingatase para siswa
Wajib seneng nggubah basa
Parikan sing dianggo nggérongi lelagoning gendhing
Ing parikan iki dhapukaning ukara mesthi bae ora bisa tansah nglungguhi paugeran, sebab cacahing wandane kawengku ing laguning gendhing.
Tuladha:
• Lelagon Parikan (Slendro Patet 9)
Cengkir Wungu, wungune ketiban daru (Dhu Ibu)
Calon guru, kudu sabar momot mengku (Pm)
Katrangan Perangan sing dikurung, yaiku (Dhu Ibu), iku wuwuhan, kanggo senggakan.
• Suwe Ora Jamu. Pelog Pathet 6
Suwe ora jamu, jamu godhong kencur
Suwe ra ketemu, temu pisan maju mundur
Carane Ngarang Parikan
Sing dikarang luwih dhisik ukara kapindho, yaiku sing isi “ngese” utawa “Wose”. Ukarane kadadean saka 4 wanda+4 wanda, utawa 4 wanda+8 wanda, utawa 8 wanda+8 wanda. Sawise rampung pangarange ukara kapidho, banjur ngarang ukara kapisan, yaiku ukara kang mung dianggo purwaka. Kehing wandane padha karo ukara kapindho, lan dhapukane kudu mujudake purwakanthi guru swara karo ukara sing kapindho.
Klebu Rerengganing Basa
Parikan klebu rerengganing basa, sebab basa sing mawa parikan iku agawe senenge wong sing maca utawa sing ngrungokake. Guneman mawa parikan bisa njalari rame nengsemake. Gendhing digerongi nganggo sakepan kang mawa parikan, bisa marakake saya gayeng.
Tuladha parikan warna telu
Parikan (4 wanda + 4 wanda) X 2
Wajik Kletik, gula jawa
Luwih becik, sing prasaja
Nangka jeruk, jambu nanas
Rada watuk, ngelu panas
Wedang bubuk, tanpa gula
Aja ngamuk, enggal tuwa
Wedang bubuk, gula jawa
Yen kepethuk, ati lega
Wajik klethik, gula abang
Aja suthik, yen tumandang
Parikan (4 wanda + 8 wanda) X 2
Kembang aren, sumber tepining kalen
Aja dahwen, yen kowe kepengen kajen
Kembang kencur, ganda sedhep sandhing sumur
Kudu jujur, yen kowe kepengin luhur
Kembang menur, den sebar den awur-awur
Bareng makmur, banjur lali mring sadulur
Parikan (8 wanda + 8 wanda) X 2
Gawe cao nangka sabrang, kurang setrup luwih banyu
Aja awatak gumampang, ing atase calon guru
Sega punar lawuh empal, segane pengenten anyar
Dadi murid aja nakal, kudu ulah ati sabar
Purwakanthi parikan bisa digawe mawa petungan kang adhedhasar petungan wanda (suku kata).
4 wanda - 4 wanda
wajik klethik, gula jawa
luwih becik wong prasaja
jemek-jemek gula jawa
aja ngenyek padha kanca
manuk emprit menclok pager
dadi murid kudu pinter
4 wanda - 8 wanda
tawon madu, ngisep sari kembang jambu
aja nesu yen dituduhaké luputmu
kembang menur, den sebar den awur-awur
bareng makmur, banjur lali mring sedulur
manuk emprit, nggawa kawat ing wit waru
dadi murid, kudu hormat marang guru
ana baya, mangan roti karo kanca
pengin mulya, aja wedi ing rekasa
8 wanda - 8 wanda
kayu urip ora ngepang, ijo-ijo godhong jati
uwong urip ora gampang, mula padha ngati-ati
Diposting oleh
Rafika Fitri Qonita
di
00.20
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Senin, 02 Mei 2011
Kota Susu (Boyolali)
Kabupaten Boyolali (Bahasa Jawa: Bayalali, arti harafiah: "lupa dari marabahaya"), adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Boyolali, terletak sekitar 25 km sebelah barat Kota Surakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Grobogan di utara; Kabupaten Sragen, Kabupaten Karanganyar, dan Kota Surakarta (Solo) di timur; Kabupaten Klaten di selatan; serta Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang di barat.
Bagian timur kabupaten ini termasuk kawasan Solo Raya. Di wilayah kabupaten Boyolali terdapat Bandara Internasional Adi Sumarmo yang melayani untuk kawasan Solo dan sekitarya, serta asrama haji Donohudan.
Pariwisata
Boyolali terletak di kaki sebelah timur Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang memiliki pemandangan sangat indah dan mempesona, sayuran hijau yang luas dan berbukit-bukit serta aktivitas Gunung Merapi yang terlihat dengan jelas aliran lahar dan asapnya. Jalur Solo-Boyolali-Cepogo-Selo-Borobudur (SSB) yang melintasi kedua gunung tersebut dipromosikan menjadi jalur wisata menarik yang menjadi pilihan bagi wisatawan baik domestik maupun negara asing dari kota budaya Surakarta menuju Candi Borobudur untuk melintasi Kabupaten Boyolali. Kecamatan Selo dikenal sebagai daerah peristirahatan sementara bagi para pendaki Gunung Merapi dan Merbabu yang mempunyai tempat penjualan cenderamata yang representatif. Kecamatan Cepogo merupakan sentra penghasil sayuran hijau yang segar dan murah serta pusat kerajinan tembaga di Boyolali.
Selain panorama Gunung Merapi dan Merbabu, kabupaten Boyolali juga memiliki tempat wisata berupa mata air alami yang mengalir secara terus menerus dan sangat jernih yang dikelola dengan baik menjadi tempat wisata air, kolam renang, kolam pancing dan restoran seperti di Tlatar (sekitar 7 km arah utara kota Boyolali) dan Pengging di Kecamatan Banyudono (sekitar 10 km arah timur kota Boyolali). Kedua tempat wisata air ini memiliki keunikan sendiri-sendiri. Kalau di Tlatar memiliki keunggulan dimana lokasinya masih sangat luas dan memiliki beberapa pilihan kolam renang berikut tempat mancing dan restoran terapung, maka di Penging memiliki keunggulan dimana dulunya merupakan tempat mandi keluarga Kasunanan Surakarta . Sehingga disekitar Pengging ini masih dapat ditemukan bangunan-bangunan bersejarah yang unik milik Kasunanan Surakarta. Juga terdapat makam salah seorang pujangga Keraton Surakarta yaitu Raden Ngabehi Yosodipuro.
Waduk Cengklik
Obyek wisata ini terletak di Desa Ngargorejo dan Sobokerto, Kecamatan Ngemplak ± 20 km, kearah timur laut Kota Boyolali, Bila dari Bandara Adi Sumarmo ± 1,5 KM {di sebelah barat bandara tepatnya}. waduk dengan luas genangan 300 ha ini dibangun pada zaman Belanda, tujuannya untuk mengairi lahan sawah seluas 1.578 ha, bisa untuk latihan sky air.
Letaknya sangat strategis, berdekatan dengan Bandara Adi Sumarmo, Asrama haji Donohudan, Monumen POPDA, dan Lapangan Golf. Fasilitas: Wisata Air (Water Resort), Pemancingan (Fishing Area), Rumah Makan Lesehan (Floating Restaurant).
Pesanggrahan Pracimoharjo
Merupakan petilasan Sri Susuhunan Paku Buwono X sebagai obyek wisata minat khusus/ ziarah, Terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo.
Air Terjun Kedung Kayang
Obyek wisata yang perlu dikembangkan. Terletak di Desa Klakah berjarak 5 km ke arah Barat dari Kecamatan Selo. Merupakan panorama pemandangan alam yang berupa air terjun yang terletak di antara 2 kabupaten, yaitu Boyolali dan Magelang.Potensial untuk aktivitas camping, hiking, climbing. Fasilitas: Homestay, Pemandangan Alam.
Makam Ki Ageng Pantaran
Di Pantaran Desa Candisari Kecamatan Ampel. Jarak tempuh dari kota 17 km. Makam ini cukup potensial sebagai tempat ziarah, karena terdapat Petilasan Ki Kebo Kanigoro, petilasan Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi, Petilasan Ki Ageng Pantaran. Pengunjung dapat menikmati pemandangan alam di kaki gunung Merbabu dan air terjun Si Pendok. Setiap tanggal 20 suro diadakan event upacara tradisional Buka Luwur. Fasilitas: Bangsal tempat tirakat, Bukit Perkemahan Indraprasta.
Wana Wisata Kedung Ombo
Obyek wisata ini terletak di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, sekitar ± 50 km ke arah utara Kota Boyolali menjanjikan rekreasi hutan dan air yang menyegarkan serta pemancingan. Fasilitas: Bumi Perkemahan, Hutan Wisata, Tempat Pemancingan, Rumah Makan Apung, Wisata Air.
Masih banyak tempat wisata lain misal Bumi Perkemahan Indrapastha, Kali Sewan, dan lain-lain. Di Boyolali juga bisa menikmati wisata kuliner misal sambal lethok/tumpang dan makananan khas lainnya. bila kamu melewati daerah boyolali cobalah singgah di salah satu tempat tersebut untuk menghilangkan rasa lelah anda saat perjalanan ataupun hanya untuk mencoba coba saja.
Gunung Tugel dan Makam Ki Ageng Singoprono
Obyek wisata ini terletak di Desa Nglembu, Kecamatan Sambi, sekitar ± 15 km ke arah timur laut Kota Boyolali. Lokasi ini lebih dekat ditempuh dari kota kecamatan Simo yang berjarak hanya sekitar 3 km dari pusat kota. Tempat ini menjanjikan rekreasi perbukitan dan ratusan tangga menuju makam Ki Singoprono di puncak gunung tugel. Obyek Wisata Khasanah yang di kunjungi setiap malam Jumat dan malam Selasa Kliwon, Lokasi Makam Ki Ageng Singoprono yang menarik dengan letaknya yang sangat indah. Fasilitas: Bumi Perkemahan, Hutan Wisata, Tempat Menyepi dan Tempat Berdoa di puncak gunung tugel.
Peternakan Sapi
Boyolali dikenal sebagai kota susu, karena merupakan salah satu sentra terbesar penghasil susu sapi segar di Jawa Tengah. Peternakan sapi perah umumnya berada di daerah selatan dan dataran tinggi yang berudara dingin, karena sapi perah yang dikembangkan saat ini berasal dari wilayah sub-stropis Australia dan Selandia Baru. Selain itu di daerah Kecamatan Ampel terdapat sentra industri Abon dan Dendeng.
Diposting oleh
Rafika Fitri Qonita
di
08.33
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook






